Bimtek Jurnalistik Konservasi

Jurnalistik saat ini perannya bisa dilakukan oleh siapa saja, disebut sebagai citizen journalism. Jurnalisme warga  adalah masyarakat umum yang berperan mengumpulkan, melaporkan, menganalisis, kemudian menyebarkan berita dan informasi.

Ada dua elemen penting dalam jurnalistik, Tulisan dan Foto. Keduanya saling melengkapi. Bahasa merupakan sarana untuk menyampaikan informasi kepada khalayak atau publik, jelas tidaknya informasi sangat ditentukan oleh benar tidaknya bahasa yang dipakai. Bahasa jurnalistik cenderung menggunakan bahasa sederhana, singkat, padat, lugas, jelas, jernih, demokratis, populis, logis, gramatikal, menghidari kata tutur, menghidari kata dan istilah asing, pemilihan kata (diksi) yang tepat, mengutamakan kalimat aktif, menghindari kata atau istilah teknis.

“No Picture, No News”, peri bahasa itu sangat terkenal dikalangan jurnalis, dengan foto suatu kejadian dapat direkam untuk disampaikan kepada publik.  Foto harus dibuat dengan bagus agar pesan yang disampaikan dapat diterima dengan baik. Foto bagus tergantung pada teknik foto, komposisi, konsep, waktu pengambilan, dan Eksposure.

Berita sangat membantu dalam menyebarluaskan informasi, saat ini sarana untuk menyampaikan berita sudah berbeda, media jaman now bergantung pada internet. Semua informasi yang dibutuhkan ada di internet. Sarana mediapun menjadi berubah, dulunya berupa cetak, sekarang beralih pada perangkat digita seperti computer, tablet, dan smartphone.

Media social menjadi sarana untuk berbagi informasi, Facebook, Twitter, Instagram, Mesengger seperti BBM dan WhatsApp adalah contohnya. Media social itu menjadi suatu hal yang wajib dibuat oleh sebuah institusi. Karena melalui media social dapat menjadi alat penyebaran informasi kepada masyarakat.

Setiap institusi sekarangpun memiliki tenaga citizen jurnalis sebagai penulis berita dan informasi di media baik cetak maupun elektronik. Oleh karena itu, pentingnya untuk membuat bimbingan teknis jurnalis agar agar mampu menghasilkan bahan publikasi yang menarik, mudah dipahami dan informatif.

Untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia dalam bidang penulisan jurnalistik, Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih melakukan kegiatan Bimbingan Teknis Jurnalistik Konservasi kepada staf/ pegawai. Kegiatan Bimbingan Teknis Jurnalistik dilaksanakna pada tanggal  Delapan November 2017 di Kantor Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih, diikuti oleh 40 orang peserta yang terdiri dari 40 peserta, 29 staf BBTNTC 14 diantaranya berasal dari Bidang PTN Wilayah, 11 orang peserta dari CI komunitas fotografi, UKM Fotografi Universitas Papua, KPA PELITA, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata provinsi Papua Barat, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata kabupaten Manokwari Selatan, Dinas kelautan dan perikanan kabupaten Manokwari Selatan.

Penyampaian materi pertama oleh Kepala Balai Besar TNTC, mengatakan ”Dalam pengelolaan terdapat unsur-unsur manajemen yaitu planning, organizing, actuating, controlling ditambah lagi dengan hubungan masayarakat (Humas). Media massa berfungsi sebagai agen atau media yang memberikan pendidikan, penyebar berita, menyajikan hiburan dan memberikan pengaruh  kepada masyarakat, sehingga keberadaan media massa tersebut menjadi bermanfaat untuk institusi. Aset Digital BBTNTC menjadi sarana untuk menyampaikan informasi. Taman Nasional Teluk Cenderawasih berada di Papua yang memiliki potensi keanekaragaman hayati dan ekosistemnya. Potensi tersebut tidak akan diketahui oleh masyarakat banyak tanpa media. Aset digital yang dimiliki BBTNTC harus aktif dalam menyebarkan informasi dan promosi.

Eko Rusdianto yang membawakan materi Penulisan Populer menekankan pentingnya kejujuran dalam sebuah tulisan.

Eko Rusdianto yang merupakan seorang jurnalis yang menulis untuk majalah Historia dan Mongabay Indonesia mengatakan “menulislah dengan kebenaran yang ada, tidak mengurangi dan melebih-lebihkan info”. Untuk seorang jurnalis, dibutuhkan independensi dengan narasumber, yaitu sikap mental yang harus dipertahankan oleh seorang penulis yang bebas dari pengaruh pihak lain, dan tidak berpihak. Semakin banyak narasumber dimuat dalam tulisan akan semakin baik tulisan itu, “minimal ada tiga narasumber dalam sebuah tulisan” kata Eko.

Ada pertanyaan penting yang diajukan oleh Eko Rusdianto kepada peserta yakni untuk siapakan penulis bekerja? Untuk pemodalkah? Untuk penguasa? Untuk pembaca? Atau untuk masyarakat? “Jawaban dari pertanyaan tersebut silahkan dijawab oleh hati nurani teman-teman”, Kata Eko.

Penulis harus mempunyai tujuan yang jelas dalam menulis, bisa saja tulisan yang dibuat untuk sebuah hadiah bagi orang lain, maka menulislah dengan baik. Amunisi dalam menulis itu adalah membaca, dengan membaca dapat memperkaya tulisan dan ragam kata.

Kiat-kiat untuk menulis diberikan oleh Eko: buatlah outline terlebih dahulu, tulisalah sebanyak yang kita mampu, jika mentok berhentilah menulis lalu lanjutkan ke bagian outline berikutnya, menulislah yang ada difikiran.

Bimtek Jurnalistik yang dilaksanakan selama dua hari (9-10) ini menampilkan tiga pemateri dengan judul Peran berita untuk publikasi kinerja  BBTNTC, Penulisan Populer dan Dasar Foto Jurnalistik.

Hari kedua pelaksanaan dilanjutkan dengan materi foto jurnalistik yang disampaikan oleh Yusuf Ahmad (Muhammad Yusuf). Dia bekerja sebagai jurnalis foto untuk Reuters sejak 2003. Dengan dasar jurnalis yang dimiliki sejak kuliah di jurusan komunikasi jurnalisme Universitas Hasanuddin. Beberapa subbagian meteri yang disampaikan adalah Teknik Dasar Fotografi Dan Foto Dokumenter. Yusuf ahmad mengatakan tugas jurnalis akhir-akhir ini sudah berkurang bahkan hampir tidak ada, kenapa? Karena hadirnya hp (handphone) android yang dilengkapi dengan fitur-fitur canggih. Sebagai contoh, beberapa kejadian penting yang menyampaikan informasi awal bukan lagi jurnalis yang memiliki kamera canggih, tapi kenyataannya masyarakatlah yang menyampaikan informasi awal.

Sub materi teknik dasar fotografi yang disampaikan kepada peserta terdiri dari pengenalan kamera, jenis-jenis lensa, sampai pada komposisi foto.

Salah satu dari peserta, Yoslianto, menanyakan “Kita tahu bersama bahwa kamera yang bagus itu mahal harganya dan tidak semua orang bisa membelinya, bagaimana cara teknik menghasilkan foto yang bagus?”

“Sekarang bukan jamannya lagi mengatakan bahwa kamera seperti ini mahal harganya, buktinya sebagian besar kamera-kamera semacam ini sudah dimiliki masyarakat” Jawab Yusuf Ahmad. Beberapa cara untuk menghasilkan foto bagus adalah harus memiliki teknis fotografi yang bagus, foto itu harus memiliki pesan dan memiliki nilai unik dan tingkat kesulitan.

Kemudian Zeth Parinding bertanya “Bagaimana cara menghasilkan foto air yang sedang bergerak kelihatan tenang atau diam?”

Ahmad Yusuf menjawab: caranya dengan menggunkan kecepatan rana tinggi, diagfragma f/16, sehingga seolah-olah dalam gambar tersebut air dapat dihentikan aktifitasnya. Contoh lainnya, baling-balin helicopter bisa kita foto tidak berputar, padahal kenyataannya berputar kencang. Itu salah satu teknik foto benda bergerak.

Tips momotret bagi pemula, pertama-tama belajar mengambil foto benda diam kemudian perlahan-lahan benda bergerak lalu yang lebih tinggi lagi mengambil foto manusia, dan seterusnya.

Setelah sesi pertama selesai, Yusuf Ahmad kemudian berbicara tentang Foto Dokumenter. Disampaikan bahwa, awal mula foto dokumenter berasal dari foto tunggal kemudian foto cerita/ essay foto. Foto dokumenter biasanya proyek jangka panjang berupa foto dokumentasi sebuah kejadian yang diceritakan melalui banyak foto. Topik utama yang sering diangkat melalui foto dokumenter adalah isu kehidupan social. Oleh karena itu foto dokumenter lebih dekat kebidang foto jurnalistik.

Ada pertanyaan dari Svend Pri, peserta berasal dari Dinas Kebudayaan Pariwisata Provinsi. “Bagaimana dengan foto Hitam Putih (BW), apakah sekedar gaya ataukah ada tujuan tertentu?”

Jawaban dari Yususf Ahmad adalah, foto hitam putih untuk lebih mempertegas objek utama foto itu, warna warni yang banyak bisa teredam sehingga perhatian terhadap objek utama tidak terpecah sehingga kesan dari foto itu lebih baik. 

Paparan materi Foto dokumenter telah selesai dilanjutkan dengan pengumpulan foto-foto dari peserta untuk dikomentari oleh Yusuf Ahmad.Catatan penting yang diberikan Yusuf Ahmad kepada peserta adalah, untuk menghasilkan foto yang bagus atau indah dibutuhkan kesabaran yang tinggi, selain itu jangan pernah malu dalam mengambil foto atau gambar, posisi badan bisa duduk, jongkok, tengkurap atau tidur berdiri atau bahkan manjat pohon atau tangga karena semua itu untuk menghasilkan gambar foto yang bagus.

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *