Artikel

Pengelolaan Taman Nasional Teluk Cenderawasih

Taman Nasional Teluk Cenderawasih (TNTC) ditunjuk sebagai kawasan konservasi berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor: 472/Kpts-II/1993 dan ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor: 8009/Kpts-II/2002 tanggal 29 Agustus 2002 dengan luas 1.453.500 Ha. Sebagai taman nasional, kawasan ini memiliki fungsi dan peran yang lengkap jika dibandingkan dengan kawasan konservasi lainnya. Fungsi perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa serta pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya menjadi tanggung jawab pengelola taman nasional.

Sebagai taman nasional perairan terluas di Indonesia, tingginya potensi yang ada dalam kawasan ini tidak menyebabkan pengelolaan kawasan Taman Nasional Teluk Cenderawasih luput dari tantangan dan permasalahan. Kelemahan-kelemahan yang ada dalam pengelolaan kawasan TNTC antara lain terbatasnya kapasitas kelembagaan (SDM, sarpras dan anggaran), belum tersedianya konsep pengembangan pariwisata secara terpadu dalam rangka pemberdayaan masyarakat, pemanfaatan jasa lingkungan dan promosi pariwisata belum terarah dan belum memanfaatkan teknologi komunikasi secara optimal. Resistensi masyarakat terhadap keberadaan kawasan TNTC, rentannya kondisi sosial politik nasional dan regional serta pemanfaatan sumber daya alam dengan cara-cara yang tidak ramah lingkungan juga merupakan tantangan tersendiri dalam pengelolaan kawasan TNTC. Sesuai dengan analisis SWOT (Strength Weakness Opportunity Threat) yang telah dilakukan dengan mengoptimalkan kekuatan dan peluang yang ada untuk menghadapi ancaman dan kelemahan, aspek pariwisata menjadi poros pengelolaan kawasan TNTC yang tentunya melibatkan peran masyarakat dan para pihak terkait dalam pelaksanaannya. Aktivitas pariwisata di kawasan TNTC dapat dikatakan mengalami peningkatan yang signifikan sejak tahun 2012. Pada tahun 2012, jumlah pengunjung meningkat lebih dari dua kali lipat dari tahun sebelumnya  dan pada tahun 2015 jumlah pengunjung mencapai angka 5.722 orang (Tabel.1).

Rekapitulasi Pengunjung Taman Nasional Teluk Cenderawasih

Peningkatan kunjungan ini berdampak positif pada peningkatan Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP). Salah satu hal yang menjadi daya tarik wisatawan baik domestik maupun mancanegara untuk mengunjungi TNTC adalah keberadaan Hiu Paus (Rhincodon typus) yang oleh masyarakat lokal disebut sebagai Gurano Bintang. Jenis ikan ini telah mendapatkan status perlindungan penuh di Indonesia melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor 18/Kepmen-Kp/2013 tertanggal 20 Mei 2012 tentang Penetapan Status Perlindungan Penuh Ikan Hiu Paus (R. typus). Status perlindungan penuh ini berkaitan dengan seluruh siklus hidup dan/atau bagian-bagian tubuh hiu paus.

Peningkatan kunjungan ini berdampak positif pada peningkatan Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP). Salah satu hal yang menjadi daya tarik wisatawan baik domestik maupun mancanegara untuk mengunjungi TNTC adalah keberadaan Hiu Paus (Rhincodon typus) yang oleh masyarakat lokal disebut sebagai Gurano Bintang. Jenis ikan ini telah mendapatkan status perlindungan penuh di Indonesia melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor 18/Kepmen-Kp/2013 tertanggal 20 Mei 2012 tentang Penetapan Status Perlindungan Penuh Ikan Hiu Paus (R. typus). Status perlindungan penuh ini berkaitan dengan seluruh siklus hidup dan/atau bagian-bagian tubuh hiu paus.

Berdasarkan International Union for Conservation of Nature (IUCN), jenis ikan ini berubah status menjadi endangered dan dataset IUCN menunjukkan penurunan populasi sebesar 63% selama 75 tahun (3 generasi) di perairan Indo-Pasifik. Tingginya minat wisatawan untuk berinteraksi dengan satwa perairan ini secara langsung maupun tidak langsung akan berdampak pada kondisi ekosistem dan individu hiu paus itu sendiri. Oleh karena itu, pengelolaan aktivitas pariwisata hiu paus di TNTC perlu ditingkatkan guna menjamin terwujudnya keseimbangan antara aktivitas pemanfaatan, pengawetan dan perlindungan sumber daya alam di dalam kawasan. Dalam upaya peningkatan pengelolaan kawasan TNTC, pihak Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih baik secara pribadi maupun bersama dengan para mitra telah melaksanakan beberapa kegiatan yang berkaitan dengan pariwisata hiu paus serta pemberdayaan dan peningkatan kapasitas masyarakat. Beberapa kegiatan penelitian terkait hiu paus pernah dilaksanakan sejak tahun 2010 termasuk pemasangan penanda radio frequency identification (RFID), pengambilan photoID hiu paus, pemantauan hiu paus, penyusunan database hiu paus (3-6 Oktober 2012 hingga saat ini), pemasangan tag satelit finmount dan penelusurannya, peninjauan kesehatan hiu paus dan monitoring kemunculan hiu paus. Kegiatan-kegiatan ini tidak hanya hasil kerja dari BBTNTC semata, melainkan berkat kerjasama dengan berbagai pihak seperti World Wildlife Fund Indonesia (WWF-Indonesia), Conservation International (CI), Universitas Negeri Papua (UNIPA).

Monitoring Hiu Paus yang dilakukan BPTN I Nabire, 3/8/2016. Foto: Sumaryono

Hasil monitoring WWF Indonesia hingga Desember 2016 telah berhasil mengidentifikasi 135 individu hiu paus yang terdapat di perairan TNTC. Dari keseluruhan individu yang teridentifikasi tersebut mayoritas berjenis kelamin jantan (87%) dan hanya 4 individu betina yang teridentifikasi. Rata-rata hiu paus yang dijumpai di kawasan TNTC berukuran 4,4 ± 1,25 m. Hal ini menandakan bahwa mereka belum mencapai ukuran dewasa. Keberadaan dan kemunculan hiu paus di TNTC dapat dikatakan sangat unik karena mereka dapat dijumpai sepanjang musim. Hal ini berbeda dengan yang terjadi di area lain seperti Belize, Ningalo Reef Australia, Filipina dan Probolinggo yang hanya muncul pada bulan-bulan tertentu saja. Di beberapa lokasi seperti di La Paz Meksiko, hiu-hiu remaja dengan rata-rata penjang tubuh 3,2-5,2 meter ditemukan memakan zooplankton dari jenis crustacea (udang-udangan) yang didominasi oleh jenis copepoda (Clark, 1997). Penelitian yang dilakukan oleh BBTNTC, Fakultas Biologi UGM dan WWF Indonesia di kawasan perairan TNTC (dari pantai Sowa hingga Teluk Umar) menunjukkan bahwa Custacea mendominasi perairan pada semua jarak sampling dengan proporsi 78-88% dari total zooplankton yang dijumpai. Sebanyak 59-65% nya merupakan golongan copepoda yang merupakan salah satu pakan alami hiu paus.

Masih kurangnya informasi mengenai hiu paus di kawasan TNTC, terutama mengenai informasi ekologi hiu paus, dapat berdampak negatif bagi keberlanjutan populasinya. Hal ini juga berdampak pada upaya pengelolaan kawasan yang sangat penting untuk menunjang kondisi ekosistem yang baik bagi keberadaan semua jenis flora dan fauna yang saat ini masih ada di dalam kawasan TNTC. Selain itu juga dapat digunakan sebagai dasar pengelolaan aktivitas pariwisata yang tinggi Gap yang ada ini perlu dipersempit dengan dilakukannya kolaborasi dengan berbagai pihak dalam bidang penelitian serta peningkatan kesadaran dan peran serta aktif masyarakat dalam menjaga kelestarian kawasan. Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih telah menjalin kerjasama dengan Universitas Negeri Papua (UNIPA) dan World Wildlife Fund Indonesia (WWF Indonesia) dalam pembuatan role model pengembangan ekowisata hiu paus (whale shark) berbasis masyarakat tradisional. Dengan dijalinnya kerjasama pembuatan role model ini diharapkan pengembangan ekowisata dapat menciptakan ruang ekonomi bagi masyarakat di daerah penyangga, meningkatkan dukungan dan peran serta aktif masyarakat dalam pelestarian hiu paus, melestarikan keberadaan hiu paus, serta meningkatkan pendapatan masyarakat, Pendapatan Asli Daerah (PAD) serta Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Dokumen kontrak kinerja role model tersebut telah disetujui oleh Direktur Jenderal KSDAE dengan durasi pelaksanaan selama 17 (tujuh belas) bulan (tahun 2017 dan 2018) dan lokasi kegiatan di Bidang PTN Wilayah I Nabire.

Role Model pengembangan hiu paus di TNTC

Tahap-tahap pencapaian role model ini dapat dikelompokkan menjadi tiga tahap yaitu prakondis, pengelolaan dan empowerment public awareness (EPA). Saat ini beberapa kegiatan pada masing-masing tahap telah dilaksanakan, antara lain feasibility studi pengembangan sarpras ODTW di TNTC, penyusunan masterplan pengembangan ODTW di TNTC, penyusunan detail engineering design (DED) pengembangan sarpras ODTW di TNTC. Kegiatan inventarisasi dan monitoring populasi hiu paus serta pembangunan pos apung juga telah terlaksana pada tahun 2017. Dalam rangka meningkatkan kualitas dan kuantitas data dan informasi mengenai hiu paus, beberapa kegiatan penelitian direncanakan akan dilaksanakan di tahun 2018 bekerjasama dengan WWF Indonesia dan UNIPA. Beberapa kegiatan penelitian yang akan dilakukan di tahun ini dengan para mitra antara lain penelitian whale shark sanctuary, monitoring hiu paus, penyusunan database karakter genetik populasi hiu paus di TNTC, serta pemantauan hiu paus menggunakan aplikasi AkvoFlow dan software IS3S2.0. Simposium nasional mengenai hiu paus juga akan dilaksanakan tahun 2018 ini, dengan harapan akan terjalinnya kerjasama baik dalam bidang penelitian hiu paus maupun pariwisata hiu paus pada tingkat Nasional. Tidak hanya berkutat pada hiu paus, masyarakat sekitar kawasan pun menjadi target pengembangan kapasitas yang nantinya dapat mendukung upaya pengembangan pariwisata hiu paus di kawasan TNTC.

Upaya pengembangan dan peningkatan kapasitas masyarakat di kawasan TNTC sebagian besar dilakukan bersama dengan para mitra. Kegiatan yang tidak hanya menyangkut hiu paus ini antara lain pengembangan produk lokal dan penyediaan alternatif pemasaran produk, pendampingan kelompok pengolah ikan dan usaha kerupuk, serta kegiatan pendampingan pengelolaan sampah. dengan terlaksananya kegiatan-kegiatan ini, diharapkan produk lokal masyarakat dapat membantu meningkatkan pendapatan mereka serta kondisi kesehatan dan kebersihan kampung dan kawasan dapat meningkat menjadi lebih baik.

Tingginya aktivitas pariwisata di kawasan TNTC perlu juga didukung oleh kapasitas pemandu wisata yang memadai. Dalam upaya pengembangan pariwisata hiu paus berbasis masyarakat ini, keterlibatan masyarakat dalam aktivitas pariwisata menjadi kunci keberhasilan kegiatan ini. Oleh karena itu beberapa kegiatan terkait pariwisata yang melibatkan masyarakat sebagai aktor utama perlu dilakukan. Pihak BBTNTC bersama mitra, pada tahun 2018 ini akan melaksanakan kegiatan pelatihan pemandu wisata bagi masyarakat serta penyiapan paket wisata dan uji coba paket wisata tersebut.

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *