Evaluasi SMART Patrol 2025: Pengawasan Taman Nasional Teluk Cenderawasih Semakin Terukur
Manokwari, 23 Februari 2026 – Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih (BBTNTC) melakukan Evaluasi Smart Patrol Tahun 2025 sebagai bagian dari upaya peningkatan efektivitas perlindungan kawasan konservasi. Evaluasi ini dilaksanakan mengacu pada Keputusan Direktur Jenderal KSDAE Nomor 74 Tahun 2025 tentang Panduan Patroli Berbasis Spatial Monitoring and Reporting Tool (SMART).
Kepala Bidang Teknis Konservasi Taman Nasional, Bagus Tri Nugroho menyampaikan bahwa evaluasi bertujuan menentukan strategi patroli yang tepat, mengukur hasil dan dampak kegiatan, serta menilai kualitas proses pelaksanaan patroli sebagai dasar perbaikan pengelolaan kawasan.
64 Kegiatan Patroli, 2.833 Data Observasi Tervalidasi
Sepanjang 2025, BBTNTC melaksanakan 64 kegiatan SMART Patrol, terdiri atas 6 patroli pengamanan dan monitoring sumber daya alam laut serta 58 patroli bersama masyarakat mitra perairan. Dari total 693 grid kawasan (ukuran 5×5 km), sebanyak 178 grid berhasil terpantau. Tercatat 3.231 data masuk, dengan 2.833 data telah melalui proses verifikasi. Rata-rata durasi patroli berkisar 4–5 hari, dengan capaian jelajah yang bervariasi antar unit pelaksana teknis.
Capaian Tim Lapangan
Beberapa capaian patroli tahun 2025 antara lain:
- Balai Manokwari: Total jelajah 2.709,61 km dengan 170 grid terpantau.
- BPTN I Nabire: Total jelajah 847,08 km (46 grid).
- BPTN II Wasior: Total jelajah 909,26 km (73 grid).
- BPTN III Ransiki: Total jelajah 973,30 km (64 grid).
- SPTN I Kwatisore: Total jelajah 2.312,46 km (48 grid).
- SPTN II Napan Yaur: Total jelajah 1.593,51 km (82 grid).
- SPTN III Aisandami: Total jelajah 1.280 km (49 grid).
- SPTN IV Roon: Total jelajah 1.383,20 km (52 grid).
- SPTN V Rumberpon: Total jelajah 1.217,43 km (43 grid).
- SPTN VI Windesi: Total jelajah 1.032,08 km (61 grid).
Meski demikian, evaluasi menemukan adanya perbedaan antara hari pelaksanaan patroli dalam SPT dan waktu perekaman track pada aplikasi SMART Patrol. Selain itu, masih terdapat data jalur yang dibuat dari waypoint, bukan rekaman GPS langsung, sehingga perlu standarisasi teknis untuk menjaga validitas data.
Pada tahun 2025, tercatat:
- 636 data satwa liar
- 381 data tumbuhan
Beberapa jenis satwa yang terdata antara lain:
- Julang Papua (Rhyticeros plicatus)
- Camar kepala hitam (Larus ridibundus)
- Penyu Hijau (Chelonia mydas)
- Kuntul karang (Egretta sacra)
- Bangau leher hitam (Ephippiorhynchus asiaticus)
Sementara temuan satwa mati didominasi spesies laut seperti kima pasir (Hippopus hippopus), kima raksasa (Tridacna gigas), teripang susu (Holothuria fuscogilva), dan penyu hijau.
Peta Kerawanan: Pulau Roon Jadi Prioritas
Analisis peta kerawanan kawasan menunjukkan intensitas aktivitas manusia dan perjumpaan satwa liar cenderung terpusat di sekitar Pulau Roon dan beberapa titik seperti Kwatisore, Tanjung Mangguar, Kepulauan Auri, Rumberpon, dan Wairundi. Wilayah dengan tingkat kerawanan tinggi direkomendasikan menjadi prioritas dalam:
- Pengawasan dan patroli intensif
- Pengendalian aktivitas pemanfaatan
- Mitigasi potensi konflik dan gangguan satwa
Dengan evaluasi ini, BBTNTC menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat pengelolaan berbasis data dalam menjaga kelestarian ekosistem laut dan pesisir di kawasan Taman Nasional Teluk Cenderawasih.
