Virtual Tour Wisata Budaya dan Kearifan Lokal Taman Nasional Teluk Cenderawasih

Tahun ini Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan Kawasan Konservasi menghadirkan kembali acara jalan-jalan virtual atau virtual tour dengan tema wisata budaya dan kearifan lokal. Program ini dimulai pada tanggal 19 April 2022 dengan tujuan pertama ke Taman Nasional Teluk Cenderawasih.

Virtual tour kali ini memperlihatkan bagaimana masyarakat Papua khususnya di Kabupaten Teluk Wondama memanfaatkan sagu dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan budaya dan kearifan lokalnya, mulai dari membelah batang pohon sagu, memangkur, memerasnya menjadi sari, kemudian dikeringkan hingga menjadi tepung.

Di Papua, tepung sagu diolah oleh masyarakat, hasil kerjasama antara kaum pria dan wanita. Tepung sagu dapat dibuat sagu bakar yang disajikan dengan teh manis atau papeda yang dimakan dengan ikan kuah kuning. 

Sagu di Papua bukan hanya sebagai bahan makanan tetapi sudah menjadi budaya. “Tanpa sagu belum dikatakan sudah makan”, mungkin begitu ungkapan betapa sagu menjadi identitas piring makan masyarakat Papua.

Hendrik Syake Mambor, Bupati Teluk Wondama mengatakan, kearifan lokal masyarakat ini perlu dijaga dan dilestarikan sehingga dapat turun temurun ke generasi selanjutnya dan dapat dijadikan sebagai objek daya tarik wisata di Kabupaten Teluk Wondama. “Saya menghimbau kepada semua perangkat daerah dan masyarakat untuk dapat bersinergi menjaga kearifan lokal dan kelestarian alam untuk generasi kita selanjutnya”, kata Bupati Teluk Wondama.

Kearifan lokal budaya masyarakat tersebut ditampilkan dalam Festival Pulau Roon Kabupaten Teluk Wondama, namun karena pembatasan sosial akibat pandemi, festival tersebut sudah dua tahun tidak dilaksanakan.

“Kearifan lokal termasuk dalam atraksi budaya, yang harus dipertahankan, sehingga kearifan lokal yang ada pada masyarakat dapat digali dan dikembangkan”, tutur Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Teluk Wondama, Christian Mambor. “Kearifan lokal tersebut dikemas sehingga dapat ditampilkan dalam even-even yang dilaksanakan secara rutin yang masuk dalam kalender even nasional”, lanjutnya.

Jalan-jalan virtual atau virtual tour ke Taman Nasional Teluk Cenderawasih ini diikuti oleh peserta melalui media Zoom dan YouTube. Peserta berasal dari pegiat wisata alam, pelajar dari perguruan tinggi, SMA, SMP, SD dari berbagai daerah.

Hingga saat ini, pandemic COVID-19 masih belum berakhir sehingga akses manusia ke alam dibatasi. Pembatasan sosial dilakukan untuk mencegah penyebaran virus menekan beragam sektor termasuk sektor pariwisata di tanah air dan juga kawasan konservasi.

Keterbatasan dimasa pandemi untuk dapat beraktivitas di alam, mendorong adanya inisiasi agar kerinduan ini bisa terobati, yaitu dengan memanfaatkan teknologi yang berkembang saat ini. Virtual tour atau jalan-jalan virtual memberikan kesempatan kepada para pengelola kawasan konservasi untuk membawa masyarakat melakukan perjalanan di taman nasional maupun taman wisata alam. Taman Nasional dan taman wisata alam di Indonesia memiliki keindahan alam, keragaman flora dan fauna serta keunikan kehidupan sosial budaya masyarakat di sekitarnya.

Direktotat Pemanfaatan Jasa Lingkungan Kawasan Konservasi (PJLKK) sejak Tahun 2020 menginisiasi kegiatan virtual tour Taman Nasional dan Taman Wisata Alam dengan tujuan menghubungkan masyarakat dengan alam agar membantu memulihkan dampak psikologis dari pandemic covid-19 serta menjadi media promosi dan edukasi bagi pengelola TN dan TWA kepada masyarakat luas. Selama tahun 2021 Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan Kawasan Konservasi telah menyelenggarakan acara Virtual Tour sebanyak 35 episode.

Dari jalan-jalan virtual kali ini pesan yang bisa diambil yakni kita harus mencontoh bagaimana masyarakat tradisional memanfaatkan sumber daya alam secara bijak. Selain itu, kearifan lokal budaya masyarakat sudah sejalan dengan konservasi alam yang selama ini diupayakan.

Oleh : Krisensia Yayuk Mangguali

Penyuluh Kehutanan Ahli Pertama

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.